Perjalanan seorang Pejabat (Iman)
Perjalanan seorang Pejabat
Akhir tahun 2016 lalu, saat diri ini masih dibawah instruksi, selalu ada celah dan ruang kosong yang belum sepenuhnya terisi, entah apa yang membuat hal tersebut masih dalam keadaan sedemikian rupa. Tak lama sebelumnya diri ini mendapat dorongan penuh dan menjadi prioritas dalam menerima amanah yang diberikannya, bukan hal yang sepela untuk mengeluarkan jawaban, saya tahu seberapa berat konsekuensi yang akan saya dapat, seberapa besar tanggung jawab yang harus saya emban, seberapa lama saya harus menahan dan bersandiwara, kalian tahu bahwa pejabat publik harus selalu objektif, bagaimana jika kalian melihatnya berada dalam kubu sebelah ?
meskipun hal tersebut sulit dihindari, tapi memang kenyataannya begitu, mau tak mau harus hidup dalam kedok sandiwara. Yaa, memang segalanya sudah diatur dalam sandiwara-Nya, dan rekayasa itu perlu, bahkan wajib ada didalam birokrasi, terlepas dari keburukan, tak semua sandiwara selalu jelek dan berkonotasi buruk. Apakah kalian pernah merasakannya ?
Jangan kira menjadi pejabat publik itu enak, memerintah ini dan itu, mengawasi pekerjaan jika ada yang teledor tinggal tegur dan potong gaji, bahkan resufle atau pecat, tak semudah itu kawan, kita bukan hidup dizaman otorisasi, dimana kekuasaan penuh berada pada satu pusat, kita berada pada zaman demokrasi, bahwa suara masyarakat adalah prioritas utama, merekalah sejatinya seorang raja, bukan para pejabat. Maka siapakah yang seharusnya dihormati ?
Atau kalian beranggapan bahwa pejabat itu enak, tinggal duduk santai menunggu perut terisi dengan sendirinya, tanpa kerja nyata dan hilang entah kemana “?”, yang satu ini memang menjadi momok yang luar biasa harus dipikul para pejabat, meskipun pada kenyataannya ada yang demikian, tetapi jangan kira semuanya demikian. Kalian tak tahu apa yang ada dipikiran pejabat beneran dan pejabat-pejabatan, lihatlah disaat ia tidak berada dikantor, apakah ia tidur pulas atau berkeringat karena menguras otaknya untuk memberikan yang terbaik bagi rakyatnya ?
Perut memang menjadi salah satu faktor terpenting dalam menjalankan aktifitas kehidupan, tanpa perut terisi makanan maka semuanya akan terhambat, energi tidak tercukupi, berjalan tak sanggup bahkan berfikirpun tak sempat, tak heran korupsi merajalela karena memang salah satu alasannya adalah “perut”, namu perlu kalian sadari, pernahkah melihat pejabat yang pengorbanannya luar biasa, dari harta, jiwa dan raga dan fikirannya ?
Sekali-kali tanyakan tentang dirinya, kabarnya. Jangan selalu tuntutan yang dihidangkan, support lah yang paling dibutuhkan, dan tanyakan pada diri kalian, apakah kalian sudah memberikan sesuatu untuknya ? jika sudah apakah hal tersebut sudah sesuai dengan harapan dan dikerjakan dengan maksimal (ikhlas) ? banyak pejabat berperut buncit, mungkin karena memang gizinya tercukupi, dan wajar saja, tapi pernahkan kalian melihat pejabat yang tubuhnya kurus kering karena merelakan uang sakunya untuk kepentingan rakyatnya, wajahnya yang semakin keriput menua, kelopakmatanya yang semakin membesar karena sering begadang memikirkan rakyatnya, dan baju yang lusuh jarang diganti karena lebih mementingkan kesejahteraan rakyatnya.
terkadang mereka selalu dihantui oleh pikiran yang tak kunjung usai, was-was yang luar biasa, mereka hanya butuh satu, yaitu tempat untuk mengadu, meluapkan keluh kesahnya dalam menjalankan amanahnya, tapi mereka bingung mau mengadu ke siapa ? hanya ada satu tempat sempurna untuk dijadikan sandaran hidup, yaitu Allah SWT sebagai Maha atas segala Maha, namun secara rasional seseorang akan merasa nyaman jika mengadu pada objek yang mampu merespon secara langsung, bukan berarti mengadu pada Allah tidak mendapatkan apa-apa, melainkan ini menyangkut soal keimanan, orang beriman yang mengandalkan hidupnya kepada Allah akan mendapatkan kesempurnaan hidupnya, tidak akan kecewa saat berharap sesuatu dari-Nya, namun sebaliknya, disaat seseorang orientasi hidupnya hanya dunia, kekuasaan yang diharapkan, ambisi yang menguasai, maka celakalah orang itu, jadi apakah kita sudah mempunyai keimanan seperti itu ?
A. Nur Rofiq
A. Nur Rofiq

Komentar
Posting Komentar