Pemuda (Semua Akan Larut Pada Zamannya)
Millenials, adalah kata pertama yang muncul di pikiran saya
saat mendengar kata ‘pemuda’, karena memang predikat tersebut cocok dan
suitable untuk disematkan pada pundak pemuda saat ini. Dari istilah millenial
tentu sudah tidak asing lagi bagi kita, terlebih keunikan pribadi yang
dimilikinya dari mulai cara berfikir hingga tindak-tanduk dalam bertindak. Kita
juga tidak bisa menyamakan pemuda saat ini dengan pemuda zaman dahulu, meskipun
kita sama ratakan umurnya semisal aktivitas pemuda jaman dahulu diusia 20-25
tahun, lalu kita compare dengan pemuda saat ini (millenial) dengan usia yang
sama, tentu akan banyak perbedaan yang terlihat mulai dari cara berfikir,
bertindak, mental, hingga gaya hidup. Memang hal tersebut larut sesuai zamannya
dan banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti perkembangan teknologi
misalnya.
Dampak dari pengaruh teknologi menjadi salah satu penyebab timbulnya ‘keanehan’ pada sifat pemuda, tentu saja keanehan tersebut hanya bisa dilihat dari sudut pandang pemuda zaman dahulu yang sangat tabu dan tak tau menau terkait perkembangan teknologi, karena mereka sulit atau bahkan belum pernah mengenal teknologi modern pada masa itu, hal tersebut juga terjadi pada masa transisi generasi, mereka yang lahir tahun 90’an yang dipaksa untuk masuk ke generasi millenial pastinya juga kaget terkait dengan adaptasi teknologi, namun hal tersebut mampu segera diatasi dengan membiasakan diri terhadap perkembangan yang ada. seperti yang saya katakan sebelumnya, semua akan larut pada zamannya.
Lalu apa hebatnya pemuda (millenial) dibanding dengan pemuda zaman dahulu ?
Bagi saya sendiri hal yang paling menonjol ialah “mental” pada diri pemuda, dan disinilah salah satu hal penting yang harus kita perhatikan. Bisa jadi pemuda saat ini yang tengah disibukkan dengan dunianya yang sulit lepas dari teknologi menimbulkan sifat “radical” terhadap keegoisan pribadi, ia jarang terhubung dengan manusia secara langsung karena sekat pembatas yang justru ada ditangan mereka sendiri, padahal banyak manusia yang ada di sekelilingnya yang seharusnya mereka mampu berkomunikasi secara langsung. berbeda dengan pemuda dahulu yang memang lingkungan mendukung untuk bersosial secara langsung, dan hal tersebut sangat hangat dirasakan, chemistry yang terbangun begitu kental, kearifan lokal sangat menonjol sebagai manusia sosial.
Namun kita tak bsa menyalahkan zaman, karena semua akan larut pada zamannya. Maka yang perlu kita lakukan ialah mencari peluang dan mampu memanfaatkannya, maka dari ancaman mampu kita rubah menjadi energi positif yang sangat luar biasa dampaknya, peluang besar akan terbuka dan mampu memberi nilai kebermanfaatan bagi banyak orang.
Pemuda millenial adalah pemuda modern, mereka sangat familiar dengan teknologi, hidup yang praktis dan efisien menjadi salah satu ciri khasnya, ambisinya ialah aktivitas hidup ada di genggaman tangan. ini bukan lagi peribahasa, namun kenyataan yang memang sedang dibangun. bandingkan saja perbedaan aktivitas mendasar pemuda saat ini dengan pemuda dahulu dalam memenuhi kebutuhan primer, pemuda zaman dahulu harus melakukan berbagai rangkaian aktivitas, dari bangun tidur, mandi, memakai baju fashionable-berkaca (berdandan) hingga menyiapkan kendaraan atau sekedar jalan kaki untuk menuju ke pusat perbelanjaan, semua itu jika dihitung-hitung mampu memakan waktu lebih dari 3 jam. Namun sangat berbeda dengan aktivias pemuda modern dalam memenuhi kebutuhan primernya, saat millenial punya hasrat ingin beli sesuatu, cukup buka smartphone dan pilih barang sesuai keinginan melalui marketplace yang tersedia, semua praktis dan efisien, tidak sampai 10 menit barang sudah terpesan. apakah ini positif ? jawabannya tergantung dari sudut pandang penilaian.
jika melihat dari pemanfaatan teknologi, maka hal tersebut bernilai positif, karena teknologi mampu mempermudah aktivitas manusia. Namun jika melihat dari sosial, maka itu menjadi salah satu sekat pembatas, dan menjadi nilai negatif.
tentunya semua itu akan larut pada zamannya, pemuda millenials harus mampu menjadi pemuda super, karena kesempatan untuk berbagi kebermanfaatan lebih besar dengan media dunia modern saat ini, meski harus menggerus beberapa kearifan sebagai seorang manusia yaitu makhluk sosial yang seharusnya menjaga silaturahmi secara langsung harus terkurangi nilai kadarnya. namun itu semua bisa diatasi dengan media sosial saat ini, asal mampu memanfaatkannya dengan sebaik mungkin, bukan menjadi ajang hate speech yang mencaci sesama saudara dalam “bertetangga”.
A. Nur Rofiq
Dampak dari pengaruh teknologi menjadi salah satu penyebab timbulnya ‘keanehan’ pada sifat pemuda, tentu saja keanehan tersebut hanya bisa dilihat dari sudut pandang pemuda zaman dahulu yang sangat tabu dan tak tau menau terkait perkembangan teknologi, karena mereka sulit atau bahkan belum pernah mengenal teknologi modern pada masa itu, hal tersebut juga terjadi pada masa transisi generasi, mereka yang lahir tahun 90’an yang dipaksa untuk masuk ke generasi millenial pastinya juga kaget terkait dengan adaptasi teknologi, namun hal tersebut mampu segera diatasi dengan membiasakan diri terhadap perkembangan yang ada. seperti yang saya katakan sebelumnya, semua akan larut pada zamannya.
Lalu apa hebatnya pemuda (millenial) dibanding dengan pemuda zaman dahulu ?
Bagi saya sendiri hal yang paling menonjol ialah “mental” pada diri pemuda, dan disinilah salah satu hal penting yang harus kita perhatikan. Bisa jadi pemuda saat ini yang tengah disibukkan dengan dunianya yang sulit lepas dari teknologi menimbulkan sifat “radical” terhadap keegoisan pribadi, ia jarang terhubung dengan manusia secara langsung karena sekat pembatas yang justru ada ditangan mereka sendiri, padahal banyak manusia yang ada di sekelilingnya yang seharusnya mereka mampu berkomunikasi secara langsung. berbeda dengan pemuda dahulu yang memang lingkungan mendukung untuk bersosial secara langsung, dan hal tersebut sangat hangat dirasakan, chemistry yang terbangun begitu kental, kearifan lokal sangat menonjol sebagai manusia sosial.
Namun kita tak bsa menyalahkan zaman, karena semua akan larut pada zamannya. Maka yang perlu kita lakukan ialah mencari peluang dan mampu memanfaatkannya, maka dari ancaman mampu kita rubah menjadi energi positif yang sangat luar biasa dampaknya, peluang besar akan terbuka dan mampu memberi nilai kebermanfaatan bagi banyak orang.
Pemuda millenial adalah pemuda modern, mereka sangat familiar dengan teknologi, hidup yang praktis dan efisien menjadi salah satu ciri khasnya, ambisinya ialah aktivitas hidup ada di genggaman tangan. ini bukan lagi peribahasa, namun kenyataan yang memang sedang dibangun. bandingkan saja perbedaan aktivitas mendasar pemuda saat ini dengan pemuda dahulu dalam memenuhi kebutuhan primer, pemuda zaman dahulu harus melakukan berbagai rangkaian aktivitas, dari bangun tidur, mandi, memakai baju fashionable-berkaca (berdandan) hingga menyiapkan kendaraan atau sekedar jalan kaki untuk menuju ke pusat perbelanjaan, semua itu jika dihitung-hitung mampu memakan waktu lebih dari 3 jam. Namun sangat berbeda dengan aktivias pemuda modern dalam memenuhi kebutuhan primernya, saat millenial punya hasrat ingin beli sesuatu, cukup buka smartphone dan pilih barang sesuai keinginan melalui marketplace yang tersedia, semua praktis dan efisien, tidak sampai 10 menit barang sudah terpesan. apakah ini positif ? jawabannya tergantung dari sudut pandang penilaian.
jika melihat dari pemanfaatan teknologi, maka hal tersebut bernilai positif, karena teknologi mampu mempermudah aktivitas manusia. Namun jika melihat dari sosial, maka itu menjadi salah satu sekat pembatas, dan menjadi nilai negatif.
tentunya semua itu akan larut pada zamannya, pemuda millenials harus mampu menjadi pemuda super, karena kesempatan untuk berbagi kebermanfaatan lebih besar dengan media dunia modern saat ini, meski harus menggerus beberapa kearifan sebagai seorang manusia yaitu makhluk sosial yang seharusnya menjaga silaturahmi secara langsung harus terkurangi nilai kadarnya. namun itu semua bisa diatasi dengan media sosial saat ini, asal mampu memanfaatkannya dengan sebaik mungkin, bukan menjadi ajang hate speech yang mencaci sesama saudara dalam “bertetangga”.
A. Nur Rofiq

Komentar
Posting Komentar