Quality Time With Yourself
Tahun 2019 begitu cepat berjalan, tak terasa sudah memasuki
bulan kelahiran, tentu akan saya awali dengan aktivitas yang produktif, salah
satunya menulis, happy reading. hehe
______________________________________________________________________________
Freedom, adalah tentang sedikit tema yang akan saya ulas kali ini, berkaca dari makhluk yang Tuhan ciptakan. Elang.
Betapa nikmatnya burung Elang yang dapat terbang bebas di langit biru, betapa asiknya ikan Paus yang dapat berenang dilautan bebas, mereka menikmati hidupnya seakan tanpa ada ikatan yang membebani, alam yang begitu luas mampu mereka jelajahi hanya menggunakan tubuhnya semata.
Tentu itu sudah menjadi fitrahnya sebagai hewan, mereka menjalankan hidup sesuai siklusnya, sedangkan manusia memiliki garis aktivitas yang berbeda. Namun tidak ada salahnya kita belajar dari setiap makhluk yang Tuhan ciptakan, akal yang kita miliki tentu mampu memilah dan mengambil hikmah dari setiap keadaan.
Burung elang yang mampu menjalani hidupnya hingga umur 70 tahun harus melewati siklus hidup yang berat, pada saat umurnya genap 40 tahun, ia harus berjuang keras untuk bisa beradaptasi dengan tubuh tuanya, bulu yang melebat, paruh yang bengkok dan kuku yang semakin runcing membuat dirinya sulit untuk bisa terbang, maka tak heran perjuangan berat tersebut akan terbalas indah disaat ia bisa melewatinya, dengan proses adaptasi tersebut burung elang mampu tidak makan hingga berminggu-minggu, sampai paruhnya mampu lepas, bulunya rontok dan kukunya copot hingga tumbuh baru. Disaat ia mampu melewati hal tersebut, burung elang mampu melanjutkan siklus hidupnya hingga 30 tahun lagi, usia yang sudah matang untuk ukuran seorang manusia.
what is the main point can you infer ?
ternyata bukan saja manusia yang Tuhan beri cobaan, karena itulah Tuhan ciptakan berbagai jenis makhluk hidup dengan segala keajaibannya agar mampu kita ambil pelajaran. seperti halnya burung Elang diatas, dia tidak akan bisa melanjutkan hidupnya jika disaat “bertransformasi” tak mampu dilewati, dan hebatnya lagi dimasa transformasi burung elang akan menyendiri, mencari tempat tinggi untuk “bermeditasi” hingga benar-benar dapat dipastikan bahwa tubuhnya sudah pulih, ternyata burung elang sangat menikmati moment tersebut, disaat-saat yang berat bukan bantuan teman yang ia cari, melainkan intropeksi dan mengkualitaskan waktu untuk dirinya sendiri.
manusiapun demikian, memang tidak bisa disamakan antara elang dengan manusia, apalagi manusia sebagai makhluk sosial, yang (mungkin) tak mampu hidup sebagai indvidual. Namun tak menutup kemungkinan 4 dari 10 orang (asumsi saya) mereka lebih menyukai hidup sendiri, mereka lebih suka memecahkan masalahnya dengan berfikir keras, intropeksi dan menkualitaskan waktunya untuk dirinya, sebelum ia minta mmasukan dan bantuan orang lain.
saya termasuk orang yang suka bersosial, namun saya lebih suka beraktivitas sendiri, dengan artian sebagian waktu saya gunakan untuk bermasyarakat sebagian lain saya gunakan untuk diri saya sendiri.
Quality Time with Myself adalah aktivitas yang sangat menyenangkan, karena tidak akan “rempong” saat ingin melakukan sesuatu, silahkan lakukan sepuasnya sesuka hati nurani kita. Mungkin sebagian orang akan menilai bahwa saya orang yang terlihat egois, tak mampu matching dengan kawan-kawan. Eh jangan salah, saya akan sangat respect dengan teman-sahabat sesuai tempat dan waktunya.
seperti halnya saat diorganisasi, misalnya. disitu adalah moment bersosial yang sangat tepat, namun diorganisasi biasanya akan cenderung kaku, karena lingkungannya yang formal, namun hal tersebut bisa diatasi dengan budaya kultural, dengan adanya moment kekeluargaan maka semua ketegangan akan mencair, moment sosial akan lebih mudah diterima.
berbeda halnya dengan waktu bergaul yang terlalu bebas, begadang malam dengan obrolan tak jelas, nongkrong dipinggir jalan dengan pandangan setan terhadap lawan jenisnya, dan budaya nggosip yang begitu kental kita rasakan. Jika demikian, saya lebih memilih tidur dikamar atau sekedar menikmati musik intrument di youtube atau kajian serta murotal.
Sekian.
Ahmad N. Rofiq
Posted on April 1, 2019
______________________________________________________________________________
Freedom, adalah tentang sedikit tema yang akan saya ulas kali ini, berkaca dari makhluk yang Tuhan ciptakan. Elang.
Betapa nikmatnya burung Elang yang dapat terbang bebas di langit biru, betapa asiknya ikan Paus yang dapat berenang dilautan bebas, mereka menikmati hidupnya seakan tanpa ada ikatan yang membebani, alam yang begitu luas mampu mereka jelajahi hanya menggunakan tubuhnya semata.
Tentu itu sudah menjadi fitrahnya sebagai hewan, mereka menjalankan hidup sesuai siklusnya, sedangkan manusia memiliki garis aktivitas yang berbeda. Namun tidak ada salahnya kita belajar dari setiap makhluk yang Tuhan ciptakan, akal yang kita miliki tentu mampu memilah dan mengambil hikmah dari setiap keadaan.
Burung elang yang mampu menjalani hidupnya hingga umur 70 tahun harus melewati siklus hidup yang berat, pada saat umurnya genap 40 tahun, ia harus berjuang keras untuk bisa beradaptasi dengan tubuh tuanya, bulu yang melebat, paruh yang bengkok dan kuku yang semakin runcing membuat dirinya sulit untuk bisa terbang, maka tak heran perjuangan berat tersebut akan terbalas indah disaat ia bisa melewatinya, dengan proses adaptasi tersebut burung elang mampu tidak makan hingga berminggu-minggu, sampai paruhnya mampu lepas, bulunya rontok dan kukunya copot hingga tumbuh baru. Disaat ia mampu melewati hal tersebut, burung elang mampu melanjutkan siklus hidupnya hingga 30 tahun lagi, usia yang sudah matang untuk ukuran seorang manusia.
what is the main point can you infer ?
ternyata bukan saja manusia yang Tuhan beri cobaan, karena itulah Tuhan ciptakan berbagai jenis makhluk hidup dengan segala keajaibannya agar mampu kita ambil pelajaran. seperti halnya burung Elang diatas, dia tidak akan bisa melanjutkan hidupnya jika disaat “bertransformasi” tak mampu dilewati, dan hebatnya lagi dimasa transformasi burung elang akan menyendiri, mencari tempat tinggi untuk “bermeditasi” hingga benar-benar dapat dipastikan bahwa tubuhnya sudah pulih, ternyata burung elang sangat menikmati moment tersebut, disaat-saat yang berat bukan bantuan teman yang ia cari, melainkan intropeksi dan mengkualitaskan waktu untuk dirinya sendiri.
manusiapun demikian, memang tidak bisa disamakan antara elang dengan manusia, apalagi manusia sebagai makhluk sosial, yang (mungkin) tak mampu hidup sebagai indvidual. Namun tak menutup kemungkinan 4 dari 10 orang (asumsi saya) mereka lebih menyukai hidup sendiri, mereka lebih suka memecahkan masalahnya dengan berfikir keras, intropeksi dan menkualitaskan waktunya untuk dirinya, sebelum ia minta mmasukan dan bantuan orang lain.
saya termasuk orang yang suka bersosial, namun saya lebih suka beraktivitas sendiri, dengan artian sebagian waktu saya gunakan untuk bermasyarakat sebagian lain saya gunakan untuk diri saya sendiri.
Quality Time with Myself adalah aktivitas yang sangat menyenangkan, karena tidak akan “rempong” saat ingin melakukan sesuatu, silahkan lakukan sepuasnya sesuka hati nurani kita. Mungkin sebagian orang akan menilai bahwa saya orang yang terlihat egois, tak mampu matching dengan kawan-kawan. Eh jangan salah, saya akan sangat respect dengan teman-sahabat sesuai tempat dan waktunya.
seperti halnya saat diorganisasi, misalnya. disitu adalah moment bersosial yang sangat tepat, namun diorganisasi biasanya akan cenderung kaku, karena lingkungannya yang formal, namun hal tersebut bisa diatasi dengan budaya kultural, dengan adanya moment kekeluargaan maka semua ketegangan akan mencair, moment sosial akan lebih mudah diterima.
berbeda halnya dengan waktu bergaul yang terlalu bebas, begadang malam dengan obrolan tak jelas, nongkrong dipinggir jalan dengan pandangan setan terhadap lawan jenisnya, dan budaya nggosip yang begitu kental kita rasakan. Jika demikian, saya lebih memilih tidur dikamar atau sekedar menikmati musik intrument di youtube atau kajian serta murotal.
Sekian.
Ahmad N. Rofiq
Posted on April 1, 2019

Komentar
Posting Komentar