Apa jadinya jika engkau tahu segalanya ?

Apa jadinya jika engkau tahu segalanya ?


Apa sih yang membedakan kita (manusia) dengan makhluk lain ciptaan Allah ?
Yup, manusia adalah makhluk ciptaan-Nya paling sempurna, kesempurnaan tersebut dibuktikan dengan adanya akal pada diri kita, namun belum tentu kesempurnaan yang disandang manusia mampu membawanya kepada kedudukan yang mulia disisi-Nya, bisa jadi hal tersebut malah membuatnya menjadi lebih hina dari pada hewan yang paling hina.

Kesempurnaan tersebut bukan berarti manusia terlepas dari dosa, terbebas dari kesalahan. Justru karena dari kesempurnaan itulah manusia mampu berbuat dosa dan melakukan kesalahan. Karena tanda kesempurnaan pada diri manusia ialah adanya nafsu yang menyelimutinya.

Bukankah kehendak nafsu lebih mudah dalam kemaksiatan daripada ketaatan ?

maka perlu untuk mentarbiyah diri agar mampu mengelola nafsu tersebut, semakin besar nafsu yang mampu diatasi maka semakin besar pahala yang Allah berikan. Jangan berharap nafsu yang telah teratasi akan hilang begitu saja, karena nafsu tidak akan pernah hilang selama nyawa masih di badan.

Salah satu contoh sifat nafsu manusia ialah serakah akan keingintahuannya, beruntunglah orang yang masih ditutupi sebagian pengetahuannya oleh Allah, karena dibalik ketidaktahuan kita ada makna besar yang Allah tidak ingin tampakkan kepada kita. Jangan disalahpahamkan arti “beruntung orang yang tidak tahu”, maksud tidak tahu disini ialah batasan wajar yang Allah berikan kepada manusia dalam mengetahui Ilmu yang memang Allah gariskan kepada kita untuk tidak masuk kedalamnya. Sebut saja dunia ghaib. Saya sebagai seorang muslim yang beriman meyakini adanya alam ghaib, namun ada batasan yang Allah berikan kepada saya, yaitu tidak masuk kedalamnya. Meskipun dulu diperguruan silat, saya sempat mempelajari ilmu tersebut, namun beruntung Allah kirim saya ke perantauan untuk menuntut Ilmu di Jogja, dan akhirnya mendapati lingkungan yang baik untuk upgrade kapasitas pemahaman Agama saya.

Kembali lagi ke persoalan ghaib. Salah satunya ialah Allah membatasi pengetahuan kita terkait masa depan, apa jadinya jika kita mengetahui hari esok ? bukan ketenangan yang kita dapatkan, melainkan keprihatinan atau kesenangan yang semu.

Apa jadinya jika Allah membuka semua indra penglihatan kita, bukan kedamaian yang kita dapatkan, melainkan kecemasan dan ketakutan karena kita mampu melihat saudara kita yang di bumi syams sedang ditindas namun kita tak mampu tuk bertindak lebih selain tangan yang mengadah keatas, kuasa tubuh ini hanya duduk dan tak mampu berbuat apa-apa. Semoga Allah mengampuni kita semua (jadikan doa sebagai salah satu hujjah kita nantinya).

Isu Bangsa Indonesia akan bubar di tahun 2030 aja ributnya sudah seantero jagad raya, apalagi kalo Allah bukakan penglihatan kita akan hancurnya dunia ini pada tahun xxxx.

Namun jangan salah, ada beberapa keistimewaan yang Allah berikan kepada orang-orang yang beriman, ialah firasatnya ketajaman penglihatan orang beriman, salah satu contohnya ialah “Ketika Khalifah Umar bin Khattab ra sedang berkhutbah jumat, tiba – tiba ditengah khutbahnya ia berseru dengan kerasnya : Wahai Sariah bin Hashiin.., keatas gunung.. keatas gunung..!, maka kagetlah para sahabat lainnya, kenapa Khalifah berkata demikian?, apa maksudnya?, sebulan kemudian kembalilah Sariah bin Hashiin dari peperangan bersama pasukan sahabat lainnya, mereka bercerita saat mereka terdesak dalam peperangan mereka mendengar suara Umar bin Khattab ra yang tak terlihat wujudnya, teriakan itu adalah : Wahai Sariah bin Hashiin.., keatas gunung.. keatas gunung..!, maka kami naik keatas gunung dan berkat itu kami memenangkan peperangan” bukankah hal tersebut Menunjukkkan bahwa Khalifah Umar ra diberi kemuliaan oleh Allah swt mengawasi hal hal yg terjadi di wilayah lainnya, ia mengomandoi mereka dan lebih tahu mana yg terbaik bagi mereka daripada mereka yg berhadapan langsung dengan musuh.

Maka kita sebagai manusia yang tak terhingga dosanya, cukup kita menyadari akan keberadaan Allah dengan asma wa sifat-Nya. Agar kita mampu mensyukuri nikmat – nikmat yang telah diberikan kepada kita saat ini. Bukan mengkufurinya.

Wallahu a'lam bishawab


A. Nur Rofiq

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Krisis Adab

Pemuda (Semua Akan Larut Pada Zamannya)

Quality Time With Yourself