Jabatan "Hujjah atau Musibah"

Jabatan “Hujjah atau Musibah”


Sejak era teknologi masuk ke peradaban manusia maka dapat dipastikan gedung – gedung sudah menjulang tinggi, kemewahan berada di setiap sudut kota, dan kesederhanaan tampaknya sulit ditemukan. hal tersebut menunjukan bahwasannya kita hidup sudah jauh dari peradaban Islam dimasa Rasulullah saw, namun bukan berarti kita juga meninggalkan apa yang telah diajarkan oleh beliau. Alangkah bahagianya orang yang senantiasa mengamalkan ajaran Islam secara kafaah tanpa keterpaksaan dalam dirinya.

Apakah era teknologi itu baik atau buruk ?

Teknologi bukanlah makhluk yang mampu berbuat, teknologi hanyalah alat untuk melakukan sesuatu, jika kalian bertanya apakah era teknologi itu baik ? iya, jika digunakan dengan baik. Dan apakah era teknologi itu buruk ? iya, jika disalahgunakan.

Sama halnya dengan jabatan, seharusnya hal tersebut bukan dijadikan sebagai profesi pekerjaan, hanya saja akan cenderung berkonotasi negatif. Yah meskipun pada akhirnya kembali lagi ke niat masing – masing. Namun yang saya maksud ialah sikap manusia dalam menerima jabatan tersebut yang seharusnya sebagai "Amanah", jika demikian maka mau tidak mau harus dijalankan sebaik mungkin. Berbeda dengan pekerjaan, kualitas ditentukan dengan bayaran. Jika orang mendengar kata pekerjaan maka akan terbayangkan uang. dan jika orang mendengar kata "Kerja" maka ingat kabinet 2014 – 2019, tak sesuai dengan namanya, hanya citra saja yang dikerjakan. (you know what i think) :D

Menurut Wikipedia Pekerjaan adalah suatu hubungan yang melibatkan dua pihak antara perusahaan dengan para pekerja/karyawan, para pekerja akan mendapatkan gaji sebagai balas jasa dari pihak perusahaan, dan jumlahnya tergantung dari jenis profesi yang dilakukan.

Itu definisi pekerjaan dimata manusia, namun berbeda dengan pekerjaan di mata Sang Pencipta. Ia berfirman dalam (Q.S 51:56) “Aku tidak menjadikan Jin dan Manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu”.

Jadi lagi – lagi balikin ke awal, yaitu niat. Orientasi kerja kita kemana ? itu yang menentukan.
Maka jika jabatan itu orientasinya dunia, tak salah jika disandang sebagai pekerjaan yang melibatkan antara perusahaan dengan karyawan, perusahaannya birokrat karyawannya masyarakat. Namun jika orientasinya akhirat itu sudah melibatkan sang pemberi Rahmat, istilahnya sudah lagi bukan pekerjaan, namun ibadah. Karena gajinya bukan lagi uang atau material lainnya, melainkan surga-Nya.

Dalam sirah para sahabat r.a, banyak dikisahkan bahwasannya mereka (para sahabat) hampir sebagian besar menolak jabatan yang ditawarkan oleh khalifah kepadanya. Tak lain alasannya karena sungguh berat pertanggungjawabannya. Mereka lebih memilih untuk berdakwah dan mengamalkan Ilmu/mengajar. Sepertinya hal tersebut berkebalikan di masa sekarang.
Sungguh beruntunglah orang yang mampu menjalankan amanahnya dengan kualitas terbaiknya, karena itu akan menjadi hujjah di hadapanNya kelak, namun sangat merugilah orang yang tidak maksimal dalam menjalankan amanahnya, karena akan menjadi musibah besar di yaumul Mizan kelak.
Wallahu a'lam Bishawab


A. Nur Rofiq

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Krisis Adab

Pemuda (Semua Akan Larut Pada Zamannya)

Quality Time With Yourself