Krisis Adab
sebagai pembuka, saya mengawali dengan statement dibawah
ini, apakah kalian sepakat ?
“Nilai seorang guru lebih rendah dari pada siswa didiknya, siswa di DO sekolah rugi, guru di DO sekolah untung?!”
sebenarnya kalimat diatas hanya kiasan saja, karena fenomena yang santer dimasyarakat ialah nasib seorang guru saat ini, kehormatan yang telah diinjak-injak hanya karena menjalankan kewajibannya sebagai seorang pendidik. sangat wajar jika seorang guru tahu strategi dan tata cara mengajar yang baik dan benar, semua itu sudah dipelajari sebelum pada akhirnya dipraktikan langsung ke murid didiknya.
Ketika seorang guru menjalankan kewajibannya sebagai seorang pendidik yang terikat dengan sekelumit aturan dan janji (ikrar) guru, maka secara otomatis ia telah memegang setitik sumber cahaya penerang untuk menerangi gelapnya kebodohan.
namun semua itu tak sebanding dengan jasa yang diberikannya, saat guru yang sepatutnya sangat dimuliakan ia malah terhinakan, yang seharusnya dikagumi malah dicaci-maki. banyak kasus yang terjadi mulai dari perendahan martabat (penghinaan, pelecehan), rusaknya moral, hingga pembunuhan.
kasus yang santer di awal bulan november 2018 ialah insiden beberapa siswa yang mempermainkan gurunya, dalih yang diberikan oleh mereka (pihak sekolah) ialah guyonan yang sudah biasa, karena guru (korban) memang hiperaktif dalam merespon guyonan siswanya. namun apakah hal tersebut dibenarkan ?
saat saya mengamati video yang sudah beredar luas, tampak dengan jelas bahwa mereka (siswa) sangat minim adab dalam menuntut ilmu. mereka lupa (atau bahkan tidak tahu) bahwa satu-satunya keberkahan ilmu adalah mendapat ridho dari yang mengajarkan, sang pemberi ridho (Allah) tak akan memberi ridho tanpa ada keikhlasan dari wasilah pemberi ridho (guru).
didalam video memperlihatkan tingkah laku seorang siswa yang terlihat sedang memperlakukan gurunya layaknya kawan yang sedang dibully, tindakan bully yg dilakukan bukan lagi hate speech, melainkan sudah masuk ke tindakan fisik. ingat ya, bullying kepada teman saja dilarang dan terkena pidana apalagi kepada orang mulia yaitu ‘guru’.
saat guru terhinakan, pelita bangsa akan redup dan memudar, ia tak lagi semangat menyinari negeri, akibat yang diderita ialah kebodohan dan kedunguan yang tak henti-henti menempel pada insan di bumi pertiwi.
maka tak heran jika pada saat usai jatuhnya BOM di Hiroshima (Jepang-Agustus 1945) yang memakan korban jiwa sebanyak 129.000, yang dicari pertama ialah seorang pendidik. Mereka sadar betul urgensi seorang pendidik dan tahu betul bagaimana cara menghormatinya, mereka segera memperbaharui SDM untuk dapat memulai peradaban barunya dengan dibangunnya manusia-manusia unggul hasil didikan para guru.
harusnya kita bangsa yang beradab dan memiliki nilai ketuhanan yang bulat, mampu bersaing dengan bangs-bangsa lain yang hanya mengandalkan nalar pikiran. rasional manusia itu terbatas, namun emosional dan spiritual tak ada batas. otak manusia butuh inspirasi dan dorongan untuk mampu berfikir, namun hati yang berkaitan dengan emosional dan spiritual akan dengan sendiri terpantik. karena pada dasarnya hati manusia itu tidak sendirian, ia akan reflek saat kesepian, ia akan menyebut sesuatu untuk dapat menolongnya saat dirinya terpepet. orang berTuhan akan menyebut namaNya.
sehingga bisa dikatakan saat seseorang yang mempunyai nalar pikir yang sehat dan hati yang bersih, ia akan sangat memuliakan gurunya. ia mampu mempertimbangkan suatu kejadian dengan hati dan menalarnya dengan pikiran.
mari menjadi bangsa yang besar dengan memuliakan guru-guru kita, karena dari merekalah pelita Ilmu bersinar mengalir, tanpa keikhlasannya maka akan berat pengamalannya, tanpa Ridhonya maka akan sia-sia semuanya.
A. Nur Rofiq
“Nilai seorang guru lebih rendah dari pada siswa didiknya, siswa di DO sekolah rugi, guru di DO sekolah untung?!”
sebenarnya kalimat diatas hanya kiasan saja, karena fenomena yang santer dimasyarakat ialah nasib seorang guru saat ini, kehormatan yang telah diinjak-injak hanya karena menjalankan kewajibannya sebagai seorang pendidik. sangat wajar jika seorang guru tahu strategi dan tata cara mengajar yang baik dan benar, semua itu sudah dipelajari sebelum pada akhirnya dipraktikan langsung ke murid didiknya.
Ketika seorang guru menjalankan kewajibannya sebagai seorang pendidik yang terikat dengan sekelumit aturan dan janji (ikrar) guru, maka secara otomatis ia telah memegang setitik sumber cahaya penerang untuk menerangi gelapnya kebodohan.
namun semua itu tak sebanding dengan jasa yang diberikannya, saat guru yang sepatutnya sangat dimuliakan ia malah terhinakan, yang seharusnya dikagumi malah dicaci-maki. banyak kasus yang terjadi mulai dari perendahan martabat (penghinaan, pelecehan), rusaknya moral, hingga pembunuhan.
kasus yang santer di awal bulan november 2018 ialah insiden beberapa siswa yang mempermainkan gurunya, dalih yang diberikan oleh mereka (pihak sekolah) ialah guyonan yang sudah biasa, karena guru (korban) memang hiperaktif dalam merespon guyonan siswanya. namun apakah hal tersebut dibenarkan ?
saat saya mengamati video yang sudah beredar luas, tampak dengan jelas bahwa mereka (siswa) sangat minim adab dalam menuntut ilmu. mereka lupa (atau bahkan tidak tahu) bahwa satu-satunya keberkahan ilmu adalah mendapat ridho dari yang mengajarkan, sang pemberi ridho (Allah) tak akan memberi ridho tanpa ada keikhlasan dari wasilah pemberi ridho (guru).
didalam video memperlihatkan tingkah laku seorang siswa yang terlihat sedang memperlakukan gurunya layaknya kawan yang sedang dibully, tindakan bully yg dilakukan bukan lagi hate speech, melainkan sudah masuk ke tindakan fisik. ingat ya, bullying kepada teman saja dilarang dan terkena pidana apalagi kepada orang mulia yaitu ‘guru’.
saat guru terhinakan, pelita bangsa akan redup dan memudar, ia tak lagi semangat menyinari negeri, akibat yang diderita ialah kebodohan dan kedunguan yang tak henti-henti menempel pada insan di bumi pertiwi.
maka tak heran jika pada saat usai jatuhnya BOM di Hiroshima (Jepang-Agustus 1945) yang memakan korban jiwa sebanyak 129.000, yang dicari pertama ialah seorang pendidik. Mereka sadar betul urgensi seorang pendidik dan tahu betul bagaimana cara menghormatinya, mereka segera memperbaharui SDM untuk dapat memulai peradaban barunya dengan dibangunnya manusia-manusia unggul hasil didikan para guru.
harusnya kita bangsa yang beradab dan memiliki nilai ketuhanan yang bulat, mampu bersaing dengan bangs-bangsa lain yang hanya mengandalkan nalar pikiran. rasional manusia itu terbatas, namun emosional dan spiritual tak ada batas. otak manusia butuh inspirasi dan dorongan untuk mampu berfikir, namun hati yang berkaitan dengan emosional dan spiritual akan dengan sendiri terpantik. karena pada dasarnya hati manusia itu tidak sendirian, ia akan reflek saat kesepian, ia akan menyebut sesuatu untuk dapat menolongnya saat dirinya terpepet. orang berTuhan akan menyebut namaNya.
sehingga bisa dikatakan saat seseorang yang mempunyai nalar pikir yang sehat dan hati yang bersih, ia akan sangat memuliakan gurunya. ia mampu mempertimbangkan suatu kejadian dengan hati dan menalarnya dengan pikiran.
mari menjadi bangsa yang besar dengan memuliakan guru-guru kita, karena dari merekalah pelita Ilmu bersinar mengalir, tanpa keikhlasannya maka akan berat pengamalannya, tanpa Ridhonya maka akan sia-sia semuanya.
A. Nur Rofiq

Komentar
Posting Komentar