Wajah Politik Mahasiswa




Menjadi bermanfaat adalah salah satu kewajiban seorang mahasiswa, karena dipundaknyalah ditaruh sebuah harapan besar bangsa kepadanya, tak ada setitikpun sejarah pergerakan yang ternodai oleh niat buruk yang berdampak pada ketidakseimbangan demokrasi, nilai itulah yang digandrung oleh mahasiswa sebagai agent of control terhadap rezim penguasa, memberi kritik setiap hal yang ada didepannya.

Tanggungjawab mahasiswa inilah yang dinamakan tanggungjawab moral, dan kepedulian yang tumbuh memang murni dari hati untuk memperjuangkan hak-hak marjinal folk. Namun gerakan moral tak seindah yang diharapkan, karena kemurnian perjuangan tersebut seakan telah bergeser menjadi gerakan politik, mahasiswa menjadi magnet menarik bagi para elit politik untuk meraup keuntungan semangatnya diranah kampus, sehingga mahasiswa menjadi korban politik praktis.
lalu apakah salah yang dilakukan mahasiswa dalam hal ber-Politik ?

Tidak, mahasiswa malah wajib dan kudu harus melek politik, namun ruh pergerakan yang dijadikan penggerak itu bukan ruh yang dapat tergadaikan oleh sebagian elit politik, melainkan murni jiwa pergerakan yang mampu melihat secara gamblang hal-hal yang perlu diperjuangkan.

Saat mahasiswa sudah masuk kedalam gerakan politik praktis, bisa dipastikan akan condong terhadap salah satu tirani, maka bangsa ini sudah tak seimbang lagi, idealismenya sudah tergadaikan oleh fanatisme kelompok tertentu.

lalu seperti apakah idealnya mahasiswa dalam berpolitik ?

jadilah mahasiswa yang mampu mengontrol – agent of control dan menjadi pembaharu bangsa kedepan – iron of stock, saat mahasiswa sudah sadar akan posisi tersebut, maka perjuangan yang dilakukan sudah pasti mulia, murni, karena moral yang sedang dipertaruhkan.

politik sudah sepatutnya menjadi makanan keseharian para mahasiswa, namun penyelewengan kurikulum selalu disodorkan oleh para pejabat elit kampus (lembaga kampus) untuk menumpulkan gerakan mahasiswa, berpolitik seakan menjadi hal yang tabu, haram hukumnya. Maka saya berani katakan bahwa itu adalah pembodohan, saat mahasiswa yang pada dasarnya mempunyai jiwa mulia sebagai pejuang moral bangsa, apa jadinya jika nilai dirinya mudah tertukar oleh nyamannya AC dalam kelas ? dan iming-iming sekotak jajan dari dosen ?

yang pasti ada 2 faktor yang ditakutkan dari bangkitnya gerakan mahasiswa, kurang lebih seperti :

pertama, saat mahasiswa bangkit, nilai kritis akan sangat dipertimbangkan, karena tidak ada lagi wadah penguji suatu ide/gagasan yang kuat selain di mimbar akademik, maka saat mahasiswa sudah bersuara, itulah suatu fakta yang sedang terjadi.

kedua, dampak dari bangkitnya sikap tersebut ialah pada lembaga-lembaga yang ada disekitarnya, karena pada dasarnya kritisnya mahasiswa adalah memngawal isu yang dianggap menyimpang, isu yang ada disekitarnya, baik kampus, daerah maupun nasional.

maka dari itu, bangkitnya mahasiswa akan sangat ditakutkan oleh rezim yang sedang berkuasa, karena hal tersebut dianggap mampu mengancam kenyamanan kekuasaan. namun saat gerakan mahasiswa mati, hal tersebut akan menghancurkan rakyat, karena pengawalan tirani yang tidak terkendali. hal tersebut seakan menjadi pisau bermata dua.

Suatu saat rezim pasti akan tumbang, dan akan digantikan oleh bibit-bibit baru yang akan menduduki parlement, mereka itulah mahasiswa sebagai agent of change.

A. Nur Rofiq

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Krisis Adab

Pemuda (Semua Akan Larut Pada Zamannya)

Quality Time With Yourself