Makna Tanggung Jawab
Sekitar 15tahun lalu waktu aku duduk dibangku sekolah dasar, pertanyaan dari seorang guru atau wali kelas membuat aku berfikir dan menjadikan jawaban tersebut hingga saat ini benar-benar menjadi ujian bagiku, namun sebenarnya hal tersebut menjadi wajar seiring bertumbuh kembangnya seseorang.
Kala itu Bu Guru menanyakan tentang personality, ya kami dilatih untuk menunjukan siapa diri kami, apa hobi kami, cita-cita hingga kepribadian (jati diri) yang sebenarnya masih abstrak bagi kami, bagaimana tidak kami masih duduk di bangku sekokah dasar, belum mengerti dunia luar, hanya layang-layang dan kelereng yang melekat di otak kami selain mata pelajaran dikelas.
Pertanyaan yang masih asing bagi kami akhirnya menuntun anak-anak kelas untuk berfikir extra agar jawabannya tidak memalukan, meski sebenarnya jika saja salah jawab anak lain tidak akan paham maksudnya, apasih yang diketahui seorang anak SD tentang istilah "kepribadian" ?
Sontak saja saat itu aku benar-benar harus tampil sempurna didepan murid-murid lain, apapun caranya jangan sampai muka ini tercoreng malu, kala itu satu-satunya jurus andalan yang keluar tanpa diminta adalah izin kebelakang, perut mules tak karuan, ya itu adalah jurus andalan semua orang, tanpa dipinta. Izin telah kudapatkan, namun bingung langkah apa yang harus aku lakukan setelahnya ? Berfikir dan berfikir, dan yang ada dalam pikiranku adalah tentang aktivitas keseharian, entah dari lingkungan keluarga, pergaulan anak kampung atau sekedar inspirasi dari TV. Ya aku mendapatkan jawaban dari berpikirku itu, tanpa disengaja ? Mungkin.
Aku menemukan Phrase yang enak didengar dan keren menurutku, that was about "responsibility", akhirnya jawaban itu menjadi kunci buat aku masuk ke kelas dan dengan penuh percaya diri bahwa "aku adalah seorang yang Bertanggung Jawab".
Kala itu giliran namaku dipanggil oleh Bu Guru, "A. Nur Rofiq silahkan perkenalkan dan deskripsikan tentang diri kamu". Langsung saja aku berdiri meski agak berat rasanya, biarpun sudah memiliki jurus yang hendak disampaikan namun tetap saja masih deg-degan. Singkatnya, "perkenalkan nama saya A. Nur Rofiq, sering dipanggil Rofiq, hobi saya memancing dan bermain layang-layang, saya merupakan orang yang bertanggung jawab ... ". Sekilas _introduction_ tersebut (menurutku) terlihat keren kala itu, meski demikian jika ditilik kembali dan ditanya lebih detail tentang apa yang dimaksud tanggung jawab, bisa dipastikan jawabanku kala itu "...krik-krik..."
Lalu apa yang ada dipikiranku sehingga dengan berani mengambil jawaban "tanggung jawab" sebagai kuncinya ?, sebenarnya aku 'sedikit' ngerti apa yang dimaksud tanggung jawab, namun secara teorical aku belum bisa jabarkan, untung saja tidak ada pertanyaan mendalam mengenai itu.
Well, what is the poin ?
Lingkungan, circle zone, atau habbit menjadi peran penting dalam tumbuh kembangnya seseorang, dirinya akan ditempa sebagaimana lingkungan mendukung, semakin keras kehidupannya semakin kuat kepribadiannya. Benar saja, orang-orang besar lahir bukan dari zona lingkar yang lemah, saya tidak mengatakan kaya-miskin menjadi faktor penentu hebat tidaknya seseorang, bagi si kaya bisa saja dengan hartanya ia terdidik dengan kedermawanannya, dan bagi si miskin bisa saja terdidik dengan kesabaran dan kelapangannya.
"Meski aku bukanlah siapa-siapa dikhalayak lain, namun keberuntungan yang kudapat tak henti-hentinya rasa syukur berucap, ya aku lahir dari keluarga biasa namun memiliki nilai juang luar biasa."
Aku merasa beruntung lahir didalam keluarga pekerja keras, jika dengar kisah bapak semasa kecil sungguh memprihatinkan sekaligus membuatku salut, disitulah kami belajar arti tanggung jawab, meskipun secara pendidikan jika dibandingkan dengan diriku, mereka terpaut sangat jauh jenjangnya, dari situlah arti sebenarnya dari keberhasilan orang tua dalam membesarkan anaknya (dalam hal pendidikan). Meskipun jika ditanya, "apa yang sudah kamu berikan kepada orang tuamu ?" Dan dengan kepala menunduk "... aku tak mampu membalas semua usahanya dan tak akan pernah mampu menggantikan keringatnya" memang faktanya demikian, sampai akhir hayatku pun semua jasa-jasa mereka tak akan pernah dapat tergantikan, lalu apa yang dapat kuperbuat? Menjadi yang mereka inginkan, tentu bukan perihal duniawi, karena cukup sudah lelah mereka disini, mereka butuh teman kelak yang dapat menjadi sinar penerang dihari pembalasan, dikehidupan selanjutnya lah mereka membutuhkan kita, sebagai seorang anak yang berbakti kepada keduanya.
Kembali lagi perihal tanggung jawab, apa sih makna dari kata tersebut ?, sewaktu SD yang aku tau tanggung jawab adalah berani tampil atas perbuatan yang telah kita perbuat, bisa juga dianalogikan jika... saya mencontek, maka dengan berani saya berdiri dan mengatakan "ya saya mencontek", hanya saja jika itu ketahuan, kalau tidak ya tetap diam.
Karena sewaktu SD seberat apa sih hukuman dari perbuatan anak-anak ? Ujung-ujungnya nangis karena kena omel, fisik sih jarang ya.
Beranjak remaja aku belum mengerti arti sebenarnya dari tanggung jawab, hanya sebatas teori yang melayang-layang didalam otak, meski demikian, sebenarnya itu cukup menjadi 'rem' dalam pergaulan, karena dengan mengerti hukum dasar sebab akibat pastinya kita akan mempertimbangkan apa yang akan kita perbuat. Sebagaimana perihal tanggung jawab, harus berani tampil atas apa yang diperbuat.
Namun memasuki usia dewasa, saat masuk SMK mulailah aku diuji atas ucapan sewaktu SD dulu, "... saya merupakan orang yang bertanggung jawab", mungkin saja Allah swt langsung mencatat dan ingin mengujinya kelak saat aku dewasa, benar saja aku terpilih menjadi penanggung jawab umum di kepengurusan IPM (OSIS), itu kesempatan awal untuk membuktikan bahwa "saya merupakan orang yang bertanggung jawab".
Aku sadar masih banyak kekurangan dalam kepengurusan kala itu, hingga tiba masa kuliah dengan segala kematangan yang ada, lagi-lagi Allah swt ingin mengujiku dengan terpilihnya menjadi penanggung jawab umum BEM, dengan beberapa rekam jejak di kepengurusan sebelumnya yang sungguh diluar dugaan bahwa hidup akan sekeras itu. Ya itulah sebagian kecil pembuktian dari kata "tanggung jawab".
Secara teori mungkin bisa terpenuhi, karena apa yang terucap itulah yang harus dilakukan, katakanlah kala itu aku membuat 5 misi, dengan indeks pencapaian terbagi lebih dari 70 program kerja, dengan segala kemungkinannya tidak mungkin seluruh program kerja berjalan dengan lancar karena faktor x yang tak mampu kita kontrol, namun dari sekian banyak program kerja pasti bisa mengisi 5 poin didalam misi tersebut, dan dengan terpenuhinya misi maka visi pun seharusnya bisa tercapai, hanya saja tidak diketahui seberapa puas pencapaian yang dilakukan, karena tidak ada sebar lembar buat ngisi formulir angket kala itu.
Apakah deretan beban diatas bisa diartikan sebagai "... saya merupakan orang yang bertanggung jawab" ?
Dengan tegas aku katakan "Iya", jika dilihat diatas kertas, namun fakta dilampangan siapa yang tahu ? Mata pengawas parlemen kampus maupun pembina osis tidak cukup kuat untuk menilai seberapa jauh kualitas tanggung jawab tersebut, mereka tidak tahu isi hati kita, mereka tidak tahu apa yang kita perbuat dibalik layar dan mereka tidak tahu apa niat dibalik semua itu. Hanya Allah swt, Tuhan semesta alam yang mampu mengetahui seluruhnya, termasuk isi hati ini.
Jadi, tidak semudah itu mempraktikan kata "tanggung jawab", masih ada deretan yang tak kasat mata, mungkin didunia kita terlihat hebat dan mampu menaklukan itu semua, faktanya masih ada hari pembalasan yang akan menagih disetiap gerak sendi ini. Cukup puaskah kita dengan hidup ini ?
Well, Apa makna Tanggung Jawab menurut kamu ?
Komentar
Posting Komentar