Macetnya Hidup di Dunia tak Seburuk Yang Kubayangkan
Hampir seperempat abad kehidupan yang saya jalani, berbagai gejolak atau mungkin saya lebih suka menyebutnya “ujian hidup” telah menjumpai saya, tentu ada skala prioritas dalam memecahkan atau menghadapi ujian tersebut.
Dalam kacamata hidup saya, salah satu yang paling menjengkelkan adalah “bertindak tanpa dasar” lalu bertingkah seakan merasa paling benar, mending jika tingkah laku yang “sok” benar tersebut ada dasar yang diyakininya, karena ia masih memiliki keyakinan sebagai alasan dalam bertindak.
Kenapa bertindak tanpa dasar menjad hal yang menjengkelkan ? ternyata disitulah saya akan menemukan pribadi yang tak memiliki tanggung jawab, dan disetiap krisis tanggung jawab disitulah orang dapat menyepelekan sesuatu.
Ketika seseorang lari dari tanggungjawab, ia akan membuat bertambahnya kemacetan dalam hidupnya, kemacetannya akan semakin menumpuk karena ia orang yang menyepelekan sesuatu, dunianya akan semakin sempit dan lebih berliku.
(seperti halnya macetnya jalan raya, hanya akan terselesaikan dengan teraturnya lalu lintas, begitupun hidup, rapikanlah tingkah laku)
Tak perlu saya ceritakan seluruh ujian hidup saya, karena itu adalah kemacetan yang saya miliki, dan kalian juga memiliki hal tersebut, lihatlah kemacetan terbesar dalam hidup kalian, apakah tentang ekonomi, study, jodoh, atau bahkan kemacetan itu sendiri ? iya karena kalian tidak tahu masalah hidup, jadi ya itu masalahnya.
Namun saya masih merasa senang dan enjoy dengan kemacetan yang saya miliki, karena saya masih memiliki hari esok dan lusa untuk memperbaikinya, setidaknya hari ini saya masih bisa duduk dikursi sambil menikmati kopi dipagi hari.
Namun, seandainya saja layar handphone tak dapat lagi kulihat dan baunya ruang kamar tak lagi dapat dirasa. itu tandanya penyesalan akan terjadi.
Kemacetan-kemacetan yang akan kuhadapi dikehidupan selanjutnya lebih mengerikan, bisa saja hal yang sama saat didunia, namun tak ada kesempatan kedua dalam memperbaikinya, tak ada lagi hari esok atau lusa untuk memperbaiki, tak ada lagi kursi atau secangkir kopi yang harumnya bisa dinikmati dipagi hari.
Ada 4 hal kemacetan yang akan dimiliki setiap orang pada saat itu, tak seorangpun dapat menghindarinya, jangankan menghindar, melenakan sejenak pikiran tentangnya amatlah berat.
Tentang umur.
Saya masih bisa berbangga diri dan membusungkan dada pada umur hampir seperempat abad ini, seakan perjalanan masih panjang dan saya masih bisa menikmati segala keindahan dunia, namun siapa sangka ? maut tak mengenal rumus kita, maut memiliki ukurannya sendiri. hanya bisa berdoa untuk keberkahan usia saya.
banyak kaum sebelum kita memiliki umur panjang, namum tak berbekas dan berkah, sebagai contoh adalah the King of Fir’aun, bekasnya tak lebih sebagai pelajaran hidup buat kita.
jika dibanding dengan kaum nabi Muhammad saw sangat jauh sekali ukuran usia yang dimiliki. namun ada keistimewaan” tertentu yang dimiliki kaum nabi Muhammad saw, bahkan keberkahan hidup bisa didapatkan sepanjang nafas berhembus.
jadi ukurannya adalah, ngapain aja kita selama hidup dulu didunia, dan ini akan berkaitan dengan kemacetan selanjutnya.
Ilmu yang didapatkan, apakah sudah diamalkan ?
Sekarang sebenarnya tak ada alasan bagi seseorang untuk tak memiliki ilmu, katakanlah kita sukar dan tak tahu sesuatu, sangat mudah akses untuk mencari tahu dan memecahkan kesukaran tersebut, akses internet adalah hal lumrah sebagai rujukan masalah, bukan buku atau manusia lagi (directly questions). dengan tersebut kita sudah tahu jawaban, tentu dari yang didapatkan akan menjadi ilmu, dan sudahkah diamalkan ?
itu adalah contoh kecilnya, belum lagi ilmu dibangku sekolah, bangku nongkrong, pesantren, kajian, dll.
Tentang Harta.
Yang lagi viral saat ini adalah tentang rokok, saya hanya akan mengambil poin kekayaan yang didapatkan oleh mereka pemilik perusahaan, 1 perusahaan saja keuntungannya bisa mencapai +200Triliyun, bagaimana jika dijumlah 2 perusahaan ? bisa buat pindahan ibukota, bukan ?!
Ya, itu semua duit, harta, didunia sangat mewah, sekilas kita dibuat iri terhadapnya, mereka adalah pengusaha visioner, tajam analisis dalam berbisnis, namun coba sedikit mendalam kita berfikir, ternyata kita lebih visioner, memikirkan dampak hingga hari hisab, mereka para hartawan akan sangat berat menanggungnya, apalagi hasil dari usaha yang memiliki mudharat ?
Kesehatan/Badan.
masih saya ambil contoh dari poin sebelumnya, tentang rokok. saya yakin banyak perokok sudah mengetahui resiko yang menantinya, ia sadar penuh, masifnya kesadaran mereka se masif iklan dan sponsor yang digemborkan oleh perusahaan rokok, namun ada keunikan (saya sebut lebih halus) yang dimiliki perokok, ia tetap saja menyeberang lautan api yang siap membakar dirinya.
kita semua tahu, seluruh mukmin adalah surga baginya, berharap kita mampu melewatinya tanpa hisab, namun akan menjadi perkara disaat kemacetan ini dipersoalkan oleh Allah swt.
bagaimana jika nanti kita ditanya, “Bukankah kamu sudah tahu dampaknya ? kenapa masih dilakukan ?”. jedeeerrr.
Secuil dari sekelumit pahit seperempat abad kehidupan, yang pasti akan lebih menantang lagi di sisa-sisa usia selanjutnya. namun ternyata semua itu tak lebih sebagai variasi ujian semata, tak ada yang lebih mengerikan dibanding dikehidupan pengadilan sesungguhnya yang akan membuat macet seluruh jagat raya.
Yaumul Hisab.
Oleh : Ahmad Rofiq

Komentar
Posting Komentar