Antara Hobi dan Tuntutan (Idealitas dan Realitas)
Pada kesempatan malam ke 20 Ramadhan ini, saya akan sedikit mengulas tentang personal attitude dalam mengambil kebijakan untuk diri sendiri (personal wisdom). Hal ini sangatlah penting untuk setiap individu, karena seseorang yang sudah dikatakan dewasa harus mampu membuat kebijakan yang membangun untuk dirinya, maksud dari kebijakan membangun ialah planning masa depan, jangka pendek – menengah – panjang.
Salah satu yang membedakan antara orang dewasa dengan anak kecil ialah impian yang ada dalam dirinya. Anak kecil sering kali memimpikan sesuatu yang bersifat hakiki, mutlak – tanpa buah pikir yang mempertimbangkannya, apa yang menurut hatinya senang maka dijadikan impian, tentu hal tersebut tidaklah salah, bahkan sangat bagus untuk merangsang hormon otaknya dalam berfikir dan berimajinasi. Maka sebab itulah yang membedakan antara orang dewasa dengan anak kecil dari sudut pandang dalam menentukan impiannya (red:cita-cita).
Maka disaat kita sudah baligh atau pubertas namun belum mampu mempertimbangkan impian terbaik kita, tak ada bedanya kita dengan anak kecil. Bahkan bisa dikatakan lebih buruk, karena di usia baligh atau pubertas itulah otak kita seharusnya sudah mampu mengolah dan mempertimbangkan sesuatu.
Termasuk Hobi
Iya, hobi bukanlah sesuatu yang buruk (negative), terkadang juga bukan sesuatu yang baik. Loh kenapa ? bukankah hobi melatih kreativitas kita? Menyegarkan otak kita? Membantu mengembangtumbuhkan bakat kita?
Memang, poin plus yang disebutkan diatas memang benar, namun tergantung sikap subjek pada hobi tersebut. Jika saja subjek tak pandai mengatur waktu untuk kegiatan wajib dan menentukan kebutuhan primernya, maka hobi tersebut sudah melalaikannya. Simpel.
Dalam kasus lain yang terjadi pada diri saya dalam menentukan hobi ialah antara idealis dengan realitas.
Hobi (idealis) dan Tuntutan (realistis)
Kedua poin diatas terkadang tidak dapat disatukan, disaat diri kita menginginkan A, namun kondisi lingkungan menuntut B, maka sikap dewasa kita (personal wisdom) sangat diperlukan untuk membantu menyelesaikan konflik jiwa diatas.
Sebagai contoh adalah pada diri saya. Hobi sejak SMP adalah seni bela diri, beberapa bidang perguruan telah saya ikuti pada masa itu, termasuk Tae Kwon Do yang saat itu sangat trending sekali (sekarangpun masih) hingga akhirnya mengantarkan saya pada pencak silat (prestasi dan spiritual) hingga bangku SMA, namun sekarang sepertinya hobi itu sirna, hilang dan entah lari kemana. Bukan berarti saya sudah tidak suka dan minat di bidang itu lagi, bahkan saya sempat bertekad saat awal kuliah dulu ingin mengikutinya di kampus yang ada perguruan silat yang saya ikuti dahulu (red: Tapak Suci), namun sungguh Allah lah yang pandai membolak balikan hati hamba-Nya. dengan situasi yang menuntut saya untuk berfikir dan berkehendak, maka saya hanya mampu berusaha, sisanya tinggal takdir yang akan menentukan.
semester awal saya ikut 2 UKM (Komunitas Multimedia dan Mapala) dan 1 Ormawa (BEM), jadi diawal semester sudah disibukan dengan 3 organisasi sekaligus, 2 UKM cenderung ke minat-bakat dan 1 Ormawa cenderung ke keorganisasian. Dari awal saya sudah membagi presentase pada setiap organisasi, karena UKM lebih cenderung ke minat bakat (red:eksplore hobi) maka hal tersebut bisa dilakukan dengan waktu yang fleksibel dan otodidak. namun BEM menjadi prioritas utama karena memang sepertinya passion saya disini, bukan lagi ke hobi namun seperti suatu keharusan bagi seetiap orang untuk mampu mempuyai skill manajerial, bukan berarti di UKM lain tidak dapat ilmu manajerial, hanya saja porsinya yang berbeda. jadi memang pada waktu itu persentase UKM jika ditotal adalah 40% dan BEM 60%.
Anehnya kenapa saya bisa gabung ke BEM ? padahal pada waktu itu saya tidak suka politik.
disinilah "tangan" Allah bermain, setiap saya tidak menyukai sesuatu karena menurut saya itu buruk, namun justru Allah mengenalkan saya kepada keburukan itu dengan menjadi bagian didalamnya. bukankah Allah lebih mengetahui mana yang terbaik untuk hamba-Nya ?
jadi memang sulit jika kita mengikuti alur manusia, maka ikutilah alur Allah (red:takdir). namun tentunya dengan kehendak kita yang mampu mempertimbangkannya. kenapa saya tidak melanjutkan hobi bela diri saya ? kenapa tingkat prioritas UKM lebih sedikit ? kenapa lebih fokus dan cenderung kepada sesuatu yang bukan kesukaan saya pada waktu itu (Politik) ?
“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216)
namun jika dipikir-pikir memang benar, bahwa jika saya terus condong pada hobi saya diatas (red:idealis) maka bisa jadi saya tidak mengenal apa itu amar ma'ruf nahi munkar, mungkin hanya dikenal sebatas teori agama saja. kenapa ? karena hobi lebih cenderung kepada ego, yang memikirkan kesenangan pribadi, memuaskan diri, dan berfokus pada kesuksesan individu.
berbeda dengan BEM (politik), disitu sungguh peran jabatan sangat dipertaruhkan, tindakanmu mampu memberi dampak kepada kemaslahatan, meski tidak 100%. namun dari sekian banyak organisasi di kampus, BEM lah yang selalu (lebih kritis) dalam kepekaan lingkungan. dan pelajaran terpentingnya adalah kita tidak menjadi pribadi yang egois, memikirkan diri sendiri, namun kita akan dituntut untuk menjadu ptibadi yg peka pada lingkungan, tampil ke publik sebagai umat yang mengajak kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar. memikirkan kenaslahatan umat.
A. Nur Rofiq

Komentar
Posting Komentar