Peduli Apa Kita Dengan Mereka dan Agamanya
Peduli Apa Kita Dengan Mereka dan Agamanya
Menjadi seorang muslim memang membutuhkan tekad yang kuat didalam dirinya, terutama soal keimanan yang menjadi pengiring setiap langkah tindakan, Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata
“iman itu bukan sekadar angan-angan, tapi keyakinan yang tertanam dalam hati dan dibuktikan kebenarannya oleh amal perbuatan”.
Maka tak heran jika orang berIslam setengah-setengah akan menelan kepahitan dan kebingunan yang mendalam, kebingungan tersebut akan tertuntun oleh kejinya fitnah di muka bumi ini.
Realitas yang terjadi memang sudah membuktikan hal tersebut, sebut saja kasus yang berseliweran saat ini, jika dulu Kapolri menganggap bahwasannya kasus Rohingya ini merupakan salah satu tindakan usaha untuk menyerang pemerintah. Maka saya katakan itu fitnah keji terhadap ummat ini.
Ada yang aneh menurut saya bagi seorang mukmin yang merasa dirinya 1 rasa dalam ikatan Ukhuwah Islamiah, namun saat satu dari saudara kita terdzholimi kaki ini tak mau melangkah. Boro – boro kaki, lidahpun kaku tak sanggup berkata, hatipun terkunci tak mampu berdoa. Yang menjadi perhatian utama harusnya Iman, karena dengan demikian, apapun penyebabnya jika Iman sudah tersatukan, ummat ini akan merasakan kepedihan yang sama. karena yang mereka (kafir) usik ialah genosida terhadap saudara se-Iman.
Bukankah Rasulullah saw pernah berkata “Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam” (Muttafaq ‘Alaih).
Sudahkah kita merasakan hal tersebut ? mungkin kita tak perlu jauh hingga demam ataupun tidak bisa tidur, namun berapa jam sih pikiran kita khususkan untuk memikirkan ummat ? pernahkan terlintas saja kita memikirkan ummat akhir zaman ini ?
Tentunya terlihat siapa kita kok ikut memikirkan ummat, ustad bukan, da’i bukan, kiai bukan, mungkin kita merasa diri ini kotor dan jauh dari Allah. Nah maka dari itu, jika kita merasa diri ini kotor dan jauh dari Allah, disitulah kita sudah menemukan 1 titik kelemahan kita, maka akan lebih mudah dalam menanganinya. Tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa) dan selalu memperbaiki kualitas ibadah kita termasuk memperbanyak dzikir, agar kita semakin dekat dengan sang pemilik takdir.
Namun sebaliknya, saat otak ini diajak memikirkan ummat saja sudah gak mau apalagi hati yang akan memproses benar/salah, tentunya tak lain jika tanpa cahaya keimanan akan sulit dilakukan. Dan lagi tidak ada yang tidak mungkin di tangan Allah, seperti halnya kisah Abu Dzar Al-Ghifari dari bani Ghifar yang terkenal berangus, kejam akan begalnya, hingga ada yang mengatakan “Celakalah orang yang kesasar atau jatuh ke tangan orang-orang Ghifar dalam perjalanan malam." Namun qodarullah, hingga Rasulullah saw bersabda “Sesungguhnya Allah memberikan petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya” maka Abu Dzar pun masuk Islam. Tentunya dengan usaha yang telah dilewati oleh Abu Dzar, dengan jiwa pemberontak dan pemikiran yang cerdas ia mampu berfikir logis dalam beragama, dan melawan para penyembah berhala.
Lalu apa yang sudah kita lakukan untuk ummat ini ? masih mau berdiam diri dan menunggu hidayah datang ? sungguh, tak akan datang hidayah hingga orang itu mau menjemputnya. Maka kita sebagai ummat akhir zaman hanya mempunyai 2 pilihan, akankah menjadi bagian dari mujahid/ah dalam kebangkitan Islam atau dalam kemunafikan untuk menghancurkan Islam. Namun percayalah, ada tidaknya kita, Islam ini akan tetap bangkit dan berjaya kembali.
Maka sekarang bukan lagi saatnya untuk berleha-leha, bukankah firman Allah sudah jelas “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imron: 110). Tentunya kemungkaran tidak akan hilang jika diri ini tak mampu hengkang dari tempat nyamannya, terlalu hina jika dunia menjadi orientasinya. maka hanya ada tindakan konkrit yang mampu melawan kemungkaran, setidaknya hati ini ikut prihatin saat melihat saudara - saudara seiman kita terdzolimi, dengan berdoa.
“Barangsiapa menghilangkan kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan orang yang tengah dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Dan Allah senantiasa membantu seorang hamba selama hamba tersebut senantiasa membantu saudaranya...”(HR Muslim).
A. Nur Rofiq

Komentar
Posting Komentar